Post

Tentang Salah Paham

Tentang Salah Paham

Jadi… kisah ini dimulai dari saya yang sedang menjelajahi Wikipedia.

Tahu lah teman-teman sekalian tentang Wikipedia, tempat dimana kita biasanya mencari-cari apapun yang kita inginkan. Dan kebetulan saya memang sedang browsing saja, membaca-baca topik yang saya kira menarik. Namun pada waktu itu perhatian saya tidak tertuju pada artikel di Wikipedia pada umumnya, melainkan sebuah sistem sosial dibelakangnya.

Wikipedia ini selayaknya proyek buatan komunitas. Yayasan yang mengelola Wikipedia, Wikimedia sendiri tidak menulis atau berkontribusi banyak kepada artikel-artikel yang ada di websitenya miliknya. Sedangkan, orang-orang random di internet seperti kita lah yang menjadi penulis artikel-artikel Wikipedia.

Tetapi sempat terpikir tidak? Website sebesar Wikipedia, yang dimana artikel-artikelnya di tulis oleh siapapun, yang berasal dari manapun, menganut kepercayaan apapun, dan memiliki personalitas apapun; bukannya justru adalah resep kegaduhan total? Tetapi bagaimana Wikipedia masih bisa berdiri kokoh seperti yang kita lihat sekarang?

Setelah saya melakukan penelusuran yang cukup singkat, ternyata di belakang Wikipedia ada sesuatu yang dinamakan pedoman perilaku Wikipedia (atau dalam bahasa Inggrisnya, Guidelines; yang biasa di kenal sebagai Code of Conduct).

Benar sekali, website ensiklopedia ini memiliki kode atau pedoman perilaku tersendiri. Dan pedoman tersebut diberlakukan oleh para pengurus-pengurus Wikipedia, agar konten yang bermanfaat di Wikipedia senantiasa terjaga bagi semua untuk bisa diakses tanpa adanya konflik.

Nah, pada waktu itu saya cukup tertarik dengan pedoman Wikipedia. Karena saya rasa pedoman tersebut memiliki kaitan yang erat terhadap kerjasama atau manajemen organisasi di dunia nyata. Bayangkan, website setua dan sebesar Wikipedia, yang mana berisikan orang-orang dari berbagai macam belahan dunia, yang sampai sekarang pun masih berjalan dengan mulus; malah seringkali menjadi sumber utama informasi bagi kita-kita.

Patut kita bertanya, bagaimana sih mereka bisa berjalan dengan baik? Bagaimana sih mereka cara mencegah konflik atau menyelesaikannya? Langsung lah saya terjun untuk mempelajari lebih dalam bagaimana pedoman lama ini bisa bekerja dengan efektif sampai sekarang.

Semasa saya menjelajahi dan membaca berbagai macam informasi tentang menjadi kontributor Wikipedia yang baik, saya tersandung pada sebuah batu. Sebuah batu yang saya kira hanya akan lewat saja, namun entah kenapa dia selalu menggangu saya kemanapun saya pergi. Batu yang saya maksud adalah prinsp “Assume good faith”.

“Huh..”, saya pikir waktu itu.

“Assume Good Faith”, ketika diterjemahkan pada bahasa Indonesia menjadi: “Asumsikan Niat Baik”. Yang berarti, kita sebagai seorang kontributor di Wikipedia, diwajibkan mengemban prinsip untuk selalu mengasumsikan bahwa kontributor lainnya selalu memiliki niat baik. Siapapun itu, dari mana pun dia, entah kita kenal dia atau tidak.

Selalu asumsikan niat baik… Itu membuat saya berpikir.

Apakah konflik terjadi karena orang mengira orang lain memiliki niat buruk, walaupun sebenarnya mereka memiliki niat baik?

Apakah mayoritas atau bahkan seluruh konflik dan kebencian terjadi hanya karena kesalahpahaman?

Salah Paham?

Wait wait wait, sebelum itu, apa sih makna dari kesalahpahaman?

Ketika kata “salah paham” melintas di kepala saya, saya mencoba membayangkan sebuah skenario seperti ini:

Bayangkan pinggiran sungai yang berisikan lahan-lahan tanaman padi, ada seorang petani yang sedang istirahat setelah membajak lahan sawahnya yang luas. Dengan air keringat membasahi bajunya dan bercak-bercak tanah liat mengotori celana yang ia pakai, ia melihat seseorang dari kejauhan. Orang tersebut sedang duduk di atas batu di pinggiran sungai dekat sawahnya. Petani ini tertarik mengenali orang tersebut, lalu memutuskan untuk berjalan menujunya.

Sebuah perahu tertambat di tepi sungai terayun-ayun akan arus air yang menghantamnya dari arah hulu sungai. Tak jauh darinya, ada sebuah batu yang cukup besar namun datar untuk diduduki. Di atas batu itu ada seorang nelayan yang beristirahat setelah lama mencari ikan.

Di tengahnya istirahat yang damai untuk nelayan itu, kesepiannya tiba-tiba terganggu oleh suara usikan, seperti jejak kaki dari belakangnya. Ketika nelayan tersebut menoleh ke belakang, ia melihat seorang sosok yang ia tidak kenali. Di tambah lagi, sosok tersebut membawa apa yang terlihatnya seperti sebuah celurit. Terkejut, nelayan tersebut malah berlari menuju kapalnya, cepat-cepat menaikinya dan melepas kait yang menambat pada tepi sungai itu. Nelayan itu pergi begitu saja, meninggalkan petani itu.

Mari kita coba analisa cerita tersebut.

Ketika kita mengakhiri membaca paragraf terakhir, mungkin kita bisa menarik kesimpulan bahwa nelayan ini salah paham, bukan? “Wah, ini dia salah paham!”

Namun pertanyaanya itu, kenapa? Bagaimana nelayan tersebut bisa salah faham?

Tidak Se-tuju-an

Seketika petani mendekati seorang nelayan itu, kita mungkin bisa mengatakan kalau ada tujuan dibelakangnya, bukan? Mungkin petani itu sekedar tertarik saja untuk mengenali sosok nelayan tersebut yang sedang menambat kapalnya di dekat sawah miliknya. Dan hanya itulah niat atau tujuan orang petani tersebut mendekati nelayan yang sedang beristirahat itu.

Tetapi nampaknya, nelayan tersebut tidak menangkap tujuan atau niat sebenarnya dari si petani itu. Alih-alih ingin berkenalan, malah kabur setelah melihat petani mendekatinya dengan celurit.

Inilah apa yang kita bisa sebut sebagai “salah paham”. Sesuatu yang terjadi ketika tujuan seseorang itu tidak diterima sesuai dari apa yang orang tersebut niatkan. Ketika petani hanya ingin berkenalan, nelayan malah mengira dia akan merampasnya atau hal buruk apapun yang terlintas di kepalanya pada waktu itu. Inilah “kesalahpahaman”.

Nah, dari sini kita bisa menarik kesimpulan yang menarik: tiap kali seorang melakukan sesuatu, pasti ada sebuah tujuan di belakangnya. Dari awalnya seorang petani ini hendak menuju nelayan untuk bertanya, dia memiliki suatu tujuan. Dia berniat untuk melakukan sesuatu. Yaitu, ya, berkenalan.

Bentar dulu… Lalu bagaimana jika petani tersebut memang pengen saja untuk ngobrol tanpa alasan?

Bagi saya, alasan atau intention itu tidak harus dalam bentuk “sadar”; dalam artian, walaupun kita merasa melakukan sesuatu tanpa alasan, sebenarnya ada dorongan secara “bawah sadar” yang membuat kita melakukan hal tersebut.

Misalnya, scrolling nih. Kita merasa kita scrolling karena… pengen aja, kan? Mungkin kita merasa melakukan scrolling tanpa alasan. Tapi sebenarnya, dalam di bawah seluk-beluk cara kerja otak kita, aksi scrolling itu timbul karena pengalaman lalu kita yang membuat otak kita terstimulasi; yang hasilnya, otak menghasilkan zat yang namanya dopamine tiap kali otak merasakan sebuah “cue” atau pemicu scrolling (katakan, kita sedang malas, lalu scrolling; kita lihat temen lain scrolling, ikut scrolling).

Dan zat dopamine ini lah yang mendorong diri kita untuk… scrolling! Walau tanpa tujuan ketika dilakukan, sebenarnya inilah apa yang “otak kita inginkan” tanpa sadar. Mungkin beberapa dari kita pernah mengalami rasanya scrolling sampai tengah malam, kan? Pernah bertanya gak, apa sih yang membuat kita ingin scrolling terus?

Jadi, ya, pelajaran yang kita bisa ambil disini adalah, tiap perbuatan manusia itu pasti ada tujuan dibelakangnya.

Ini berdasarkan perspektif secara teleologi ya. Untuk diskusi lebih lanjut tentang pertanyaan, “apakah tiap aksi yang dilakukan oleh seorang manusia itu selalu berdasarkan sebuah tujuan, secara sadar maupun tidak?”, mungkin bisa jadi artikelnya sendiri… karena hal ini adalah perdebatan besar di antara kalangan para filsuf. Asumsikan fondasi ini kokoh for the sake of this article :)

Beda Pandangan

Gimana kalau kita mengatakan bahwa si nelayan pernah trauma tentang terlukai oleh orang asing dengan celurit? Mungkin itu dapat sepenuhnya merubah pandangan kita tentang cerita ini.

Tiba-tiba yang kesalahpahaman-nya nelayan terdengar plausible.

Karena nelayan pernah mengalami peristiwa, katakan, di rampas oleh seseorang dengan skenario yang mirip: menggunakan celurit, sosok asing mendekat; seketika petani tersebut mendekati nelayan tanpa tujuan yang buruk, bisa-bisa saja nelayan menganggapnya sebagai ancaman. Muncul lah ingatan kelam nelayan itu, yang membuatnya memilih untuk kabur agar tidak terkena hal yang sama seperti yang ia alami sebelumnya.

Maka hadirlah parameter dalam kesalahpahaman: kita perlu menyadari bahwa tiap orang memiliki pengalaman, dan pandangan yang berbeda.

Dan dari perbedaan pandangan tersebut, berpotensi merubah apa tujuan—bahkan sepenuhnya—yang sebenarnya ingin disampaikan atau dilakukan.

Perbedaan Cara

Apa yang petani rasakan adalah hal yang normal. Bahkan mungkin dia memang biasanya mendekati orang-orang lain menggunakan celuritnya biasa saja. Atau bahkan mungkin petani merasa dengan membawa celuritnya dapat menjadi bahan obrolan yang menarik ketika berkenal dengan orang baru ini. “Wah ini saya celuritnya buat sendiri”, siapa tahu kan ya.

Misalnya, saya lebih memilih menggunakan sebuah laptop untuk mencatat materi kuliah yang disampaikan dengan mengetiknya. Namun teman saya satunya lebih memilih untuk mencatat menggunakan pena secara langsung.

Kedua opsi tidak salah, tetapi pula mereka tidak sama-sama benar. Tiap cara memiliki pro dan kontra masing-masing.

Jika kita mengetik, mungkin kita harus bisa mengetik dengan cepat agar bisa mencatat segala kata yang keluar oleh dosen. Atau jika kita memilih untuk menulis, mungkin kita juga harus lihai dalam menggoreskan pena di atas media tulis kertas yang kita miliki. Kedua-nya sama-sama mencatat, perbedaannya hanyalah pada caranya saja.

Kembali pada kisah petani dan nelayan, mungkin sebenarnya norma yang nelayan tersebut ketahui adalah bahwa jika seseorang ingin mendekati atau berkenalan dengannya, setidaknya membuat gestur tubuh seperti melambaikan tangan atau senyum. Dibandingkan dengan norma yang diketahui petani, yang jika ingin berkenalan, langsung saja dekati lalu obrolkan secara langsung.

Kedua cara tidak ada yang salah, dua-duanya masing-masing memiliki pro dan kontra. Namun pada akhir harinya, dua-duanya bertujuan untuk mengenali orang baru, bukan?

Namun, karena perbedaan cara antara petani dan nelayan dalam berkenalan, membuat nelayan tidak dapat membaca tujuan petani dengan jelas, di tambah dengan ingatan buruk terhadap celurit, maka masuk akal jika nelayan tersebut memilih untuk kabur.

Kita dapat memetik pelajaran terakhir dalam cerita ini: tiap manusia memiliki cara masing-masing yang berbeda.

Ternyata Masuk Akal Juga, ya

Pada akhir hari, kita melihat bahwasanya apa yang dilakukan oleh nelayan itu tidak hanya masuk akal, tapi bahkan adalah satu-satunya cara ia harus melakukannya.

Benar, ia salah paham, tidak menangkap tujuan petani dengan benar. Tetapi, apakah kita bisa menyalahkannya karena salah paham?

Bagaimana jika daripada kesalahpahaman ini terjadi pada perkenalan petani dan nelayan, tetapi terjadi pada, katakan, perdebatan antar eksekutif di hirarki atas perusahaan? Perseteruan antar anggota keluarga? Perkelahian antar teman di sekolah? Mungkin kita dengan mudah menunjuk jari kepada siapa pelaku atau aktor jahatnya.

Tetapi sebenarnya… Kesalahpahaman itu terjadi bukan karena orang ingin untuk salah paham. Bukan, bukan. Sedangkan, karena memang mereka masing-masing memiliki setidaknya: 1. tujuan yang berbeda, 2. pandangan yang berbeda, dan 3. cara yang berbeda; yang ketika terjadi disonansi interpersonal, tidak timbul diskursus akan perbedaan ketiga nilai tersebut, pada akhirnya akan menghasilkan yang namanya konflik.

Saya coba buat satu contoh: katakan kita sedang dalam sebuah tim, dan kita sedang mengerjakan sebuah proyek bersama. Ketika kita mendiskusikan bagaimana cara menyelesaikan suatu masalah, kita mengusulkan cara A karena lebih efisien. Namun di sisi lain, ada anggota lain yang memilih untuk cara B karena lebih berkualitas. Kita mungkin lebih mengutamakan efisiensi, dan anggota tersebut lebih mengutamakan kualitas.

Jika kita hanya berkutat pada esensi A dan B tanpa adanya diskusi tentang tujuan, pandangan, atau perbedaan cara pandang kita. Mungkin kita lebih memilih efisiensi karena kita memiliki pengalaman mengerjakan proyek terlalu lama; mungkin anggota tersebut lebih memilih kualitas, karena ia rasa proyek-proyek buatan tim ini standar kualitasnya terlalu rendah. Ketika kita hanya mendiskusikan esensi, “A itu lebih baik karna XYZ”, “B itu lebih baik karena PQRS”, tanpa menyentuh alasan di belakang preferensi masing anggota dalam pilihan tersebut, akan terjadi disonansi, yang berpotensi tumbuh menjadi konflik.

Menggunakan pemahaman ini, saya sendiri pribadi jadi tersadarkan, yang mungkin teman-teman pembaca sekalian pula rasakan. Ketika sedang terjadi konflik, sebenarnya orang yang kita anggap “musuh” itu tidak selalu berarti mereka memiliki niat buruk, tidak. Bisa saja kita salah faham, bisa saja ada perbedaan antara ketiga nilai tersebut antar saya dengan “musuh” saya; yang sampai detik ini, saya belum pernah melakukan diskusi dengannya untuk memahami lebih dalam, mengapa terjadi konflik antara kita.

Berhasil! Kita telah memahami bagaimana kesalahpahaman bisa terjadi.

Pada dasarnya, kesalahpahaman terjadi karena ada tiga esensi yang ada pada seorang individu, yaitu: tujuan, pandangan, dan cara; yang dimana terjadi perbedaan antara individu lainnya. Yang jika tidak diselesaikan melalui diskusi mutual antara ketiga esensi tersebut, maka berpotensi menimbulkan konflik.

Namun, pernah bertanya tidak, kenapa terjadinya kesalahpahaman?

Mungkin kita bisa tahu bagaimana terjadinya salah paham, tapi mengapa kesalahpahaman terjadi?

Mungkin ada yang menjawab, “lah, bukannya kesalahpahaman terjadi karena perbedaan esensi antara individu?”, tetapi coba bertanya lebih dalam lagi, kenapa ada perbedaan esensi antara individu? Dari mana asal perbedaan ini muncul?

Mari kita jelajahi pertanyaan ini pada bagian berikutnya.

Mengupas Komunikator

Komunikasi adalah suatu interaksi yang dilakukan antar “komunikator”, yang dimana komunikator itu ialah kita semua, manusia. Saya, sebagai penulis artikel ini, sedang melakukan komunikasi kepada teman-teman sekalian, para pembaca. Komunikasi ini hanya bisa terjadi ketika ada komunikator. Tanpa adanya saya, artikel ini tidak akan ada. Tanpa adanya pembaca sekalian, tidak akan ada komunikasi yang terjadi.

Nah, artikel yang saya tulis ini berbentuk komunikasi verbal. Komunikasi verbal adalah klasifikasi jenis komunikasi yang menggunakan kata-kata (sesuai namanya dari bhs Inggris, “verbal”, suatu bahasa baik dalam bentuk tertulis atau perkataan).

Tetapi, komunikasi itu tidak hanya berbentuk verbal saja. Komunikasi selain komunikasi verbal bisa kita sebut sebagai komunikasi non-verbal. Bentuk-bentuknya diantara lain adalah pergerakan tangan ketika kita berbicara, body language, gestur, atau mungkin sentuhan fisik.

Jika kita bandingkan kedua jenis komunikasi ini, kita mungkin akan menyadari suatu perbedaan yang cukup penting. Yang verbal, kita bisa menjelaskan banyak hal secara sekaligus dan dengan presisi; sedangkan yang non-verbal, itu sekedar, ya, penambah komunikasi verbal. Dagingnya ada di komunikasi verbal, sedangkan bumbunya ada di komunikasi non-verbal. Dengan komunikasi non-verbal, kita tidak bisa menyampaikan informasi sebanyak dan sebaik komunikasi verbal. Mungkin kita menyimpulkan seperti itu, bukan?

Hanya saja, bagaimana jika saya tegaskan bahwa bahkan daging dari komunikasi itu pun tidak jelas? Sama seperti komunikasi non-verbal?

Bagaimana bisa?

Coba kita telaah lebih dalam lagi. Zoom in. 100x.

Kandungan Komunikasi

Bayangkan sebuah skenario seperti ini: kalian sedang berbicara dengan seorang lain dalam sebuah percakapan yang konvensional. Pembahasan yang biasa-biasa saja sebenarnya, selayaknya apa yang biasanya kalian lakukan percakapan.

Jika kita lihat dalam percakapan ini, katakan ada dua orang yang saling memperhatikan satu sama lain, saling menyampaikan informasi antara satu sama lain. Bagi tiap kedua orang tersebut, memiliki sebuah otak yang memproses segala informasi yang masuk, serta mensintesis informasi baru untuk disampaikan kepada lawan bicara.

Tapi mari kita coba telaah, alur apa yang dilalui oleh informasi dari sumber menuju tujuannya:

  1. Sintesis informasi baru yang terjadi pada otak salah satu dari mereka.
  2. Otak menerjemahkannya ke dalam bahasa yang difahami oleh lawan bicara.
  3. Otak menggerakkan pita suara serta bagian dari mulut; sesuai dengan intonasi, gerak bicara, pelafalan tiap suku kata.
  4. Suara keluar dari mulut kalian, berbentuk gelombang mekanik yang merambat di udara.
  5. Gelombang mekanik tersebut datang menuju telinga lawan bicara kalian.
  6. Telinga menerima gelombang mekanik tersebut, yang pada akhirnya akan dikirimkan menuju otak.
  7. Otak menerjemahkan gelombang udara yang bentuknya seperti “naik-turun-naik-turun” menjadi kata-kata dari bahasa yang dikenal.
  8. Terakhir, otak akhirnya memahami makna dari apa yang kalian katakan dari kata-kata tersebut.

Phew… sepertinya tadi agak terlalu mendalam. Tetapi, gila gak sih? Ketika kita berbicara dengan teman kita, proses saling bercakap satu-sama-lain ternyata itu jauh lebih canggih, rumit, serta kompleks daripada yang kita pernah kenali, yang kita sama-sama sendiri anggap sebagai suatu hal yang lumrah! Wow!

Dari gambaran yang mendetil ini, mungkin beberapa dari teman-teman pembaca sekalian menangkap sesuatu hal yang krusial. Sesuatu yang tampak pada segala tahap komunikasi, yang diam-diam adalah titik hiposentrum dari kesalahpahaman.

Apakah teman-teman menangkapnya?

Bangkrut Ketika Berkomunikasi

Lossiness — yang di bahasa Indonesia-kan, bermakna “kerugian”.

Apa maksud dari kerugian ini? Bagaimana otak, telinga, atau gelombang suara bisa merugi?

Rugi yang kita bahas disini bukan kerugian dari segi finansial, ya. Itu tidak seberapa; sedangkan, kerugian yang dimaksud disini adalah kerugian informasi.

Tiap. satu. tahap. yang saya tuliskan di atas, semua ada potensi untuk informasi bisa dirugikan, atau berkurang. Coba lihat:

  1. Sintesis informasi → Sumber informasi
  2. Otak menerjemah ke bahasa → Potensi kerugian semantik jika kosakata kita tidak memumpuni.
  3. Otak menggerakkan pita suara & mulut → Potensi salah ucap, salah melafalkan.
  4. Gelombang suara merambat di udara, dan telinga menerima gelombang suara → Interferensi pada umumnya (bisa tertimbun suara keras lain, di redamkan oleh benda yang menghalangi kita, dst).
  5. Otak menerjemahkan gelombang suara menjadi kata-kata → Potensi salah dengar (kurang jelas suaranya, dst)
  6. Otak memahami kata-kata tersebut menjadi makna yang berguna → Potensi interpretasi keliru, keliru melihat konteks; pada dasarnya, keliru memahami.

Ternyata ada banyak sekali kerugian yang berpotensi terjadi di antara banyak tahap-tahap ini!

Hal yang saya rasa paling penting adalah, apa mitigasi yang dapat di lakukan pada tiap komunikator pada sebuah percakapan tersebut untuk memperbaiki atau mengurangi potensi ruginya informasi. Misal, interferensi suara yang menimbulkan seperti salah dengar masih bisa di perbaiki dengan mengatakan ulang kalimat yang ingin disampaikan. Atau, salah ucapan karena dialek (misal, bahasa Indonesia dialek Jawa yang cenderung terdengar medok) yang masih bisa di fahami bila lawan bicara terbiasa. Atau mungkin menggunakan kosakata yang berbeda untuk “menembak” makna yang tepat yang ingin disampaikan.

Tetapi ada suatu hal yang sangat besar yang paling sulit untuk diperbaiki menurut saya adalah, interpretasi.

Salah satu contoh yang dapat saya ambil dari pengalaman pribadi adalah bagaimana satu kata ini yang ada di dalam bahasa Indonesia dapat memiliki interpretasi yang berbeda: “alasan”.

Ketika saya mendengar alasan, langsung tersirat di benak saya tentang suatu hasil dari justifikasi perbuatan salah kita. Ketika kita melakukan suatu yang buruk, kita ber-”alasan”; kita memberi “alasan” hal buruk itu. Itulah interpretasi “alasan” utama yang ada di benak saya. Dan sejujurnya, saya tidak suka makna itu.

Tiba-tiba, suatu kalimat seperti, “Alasan di balik” memiliki konotasi buruk atau niat bahwa ingin lari dari justifikasi buruk. Sedangkan pada dasarnya, penyampaian kalimat tersebut dilakukan karena secara murni ingin berniat baik.

Di sinilah bagaimana bahasa Inggris berbeda. Karena dalam bahasa Inggris, ada dua macam kata yang merupakan terjemahan dari kata “alasan”: “reason” dan “excuses”. Dua kata ini memiliki makna “alasan” yang sama, tetapi memiliki konotasi yang jauh sekali berbeda.

Ketika kita menggunakan “reason”, sebagai contoh, “The reason behind this motion is to”. Bagi saya, hilang konotasi buruk itu; secara murni, kata “reason” secara tidak langsung mendemonstrasikan perspektif yang dimana pembicara melakukan “reasoning” (pertimbangan/pemikiran) yang matang dan objektif untuk dapat meraih kesimpulan tersebut.

Namun di sisi lain, kata “excuses” memiliki makna lebih dalam dari konotasi buruk “alasan” dalam bahasa Indonesia. Ketika kita menggunakan “excuses”, kita tidak sedang membicarakan justifikasi baik untuk melakukan suatu hal, no no. Sedangkan “excuses” memiliki arti, ya, seperti pada kalimat, “You’re just making excuses!” (Kamu hanya membuat alasan saja!).

Konotasi buruk tidak dapat disampaikan dengan kalimat, “You’re just making reasons!” (terjemahannya sama).

Dua kalimat tersebut memiliki semantik yang berbeda, dan itulah permasalahan fundamental tentang komunikasi.

Sebenarnya Komunikasi itu… Mustahil

Mungkin sudah lelah teman-teman membaca tentang ocehan saya tentang semantik dari kata “alasan” dalam dua bahasa yang berbeda. Tetapi kesimpulannya adalah, mau bagaimanapun kita memperbaiki atau benar-benar berusaha menyampaikan berulang-kali dengan berbagai macam cara terkait informasi yang kita ingin sampaikan, selalu ada informasi yang hilang. Sekecil apapun itu.

Pada dasarnya, komunikasi adalah suatu hal yang lossy. Dari sini, kita dapat menarik kesimpulan bahwa secara fundamental, komunikasi yang sempurna… itu mustahil. Yup, mustahil.

Bahkan jika kita sampai di masa depan dimana kita mungkin bisa melakukan telepati antara satu sama lain, tidak dapat menjamin bahwa informasi yang kita ingin sampaikan ke lawan bicara akan selalu 1 banding 1.

Karena tiap otak manusia itu berbedal; terbentuk dari bagaimana ia dibesarkan oleh orang tua-nya, pengalaman-pengalaman yang ia alami, trauma yang pernah dilalui, atau kesenangan yang pernah tercapai selama hidupnya. Tiap manusia memiliki makna yang berbeda-beda yang terkode dalam saraf-saraf neuron dalam otak mereka. Mau bagaimanapun, selalu ada informasi yang merugi.

Maka itulah alasan dari komunikasi.

Bayangkan sebuah cerita, kita bertemu dengan orang asing di gerbong KRL, tidak kenal ia siapa, apa maksud dia berada di dekatmu, atau sebenarnya dia ingin ngapain sih? Semua itu bermula dari sebuah kesalahpahaman. Dan dari situlah, kita melakukan komunikasi untuk bisa membangun sebuah jembatan antar dua pikiran, sedikit demi sedikit. Oh, ternyata dia habis pulang kampung; Oh ternyata dia mencari tempat yang dekat AC karena kepanasan; Oh, ternyata dia ingin menuju bandara untuk kembali kerja di kota.

Tidaklah indah teman-teman? Meskipun kita hidup di dunia yang penuh kesalahpahaman ini, kita selalu berusaha untuk melakukan komunikasi untuk menghindarinya. Maka itulah makna dari komunikasi, untuk menghindari kesalahpahaman. Karena pada hakikatnya, kita selalu salah paham.

Kembali Meraih Udara Segar

Wow, kita terlalu dalam menyelam ke dasar lautan, mari kita kembali ke permukaan untuk bernafas sejenak. Sebenarnya, APA SIH yang kita dapatkan dari perjuangan menyelam sedalam itu ke dalam lautan?

Kembali lagi pada salah satu ponasi Wikipedia, “Assume good faith”, asumsikan niat baik.

Ketika kita mengasumsikan orang lain akan niat baik, kita memberikan mereka sebuah kesempatan, sebuah peluang bagi mereka untuk mengekspresikan bagaimana mereka ingin kamu melihatnya. Tidak semua orang memiliki niat buruk, tetapi apabila kita selalu melihat siapapun dalam pandangan niat buruk, tidak akan ada ruang bagi mereka untuk menampilkan niat baik mereka; tidak akan ada kontribusi signifikan pada Wikipedia, tidak akan bisa terbentuk situs wiki sebesar Wikipedia yang mencakup separuh pengetahuan dunia.

Dalam pengadilan, salah satu peraturan yang fundamental dalam mengadili seseorang adalah selalu memberi kesempatan kepada terdakwa untuk menyampaikan pembelaannya secara adil. Sederhana: terdakwa tidak bersalah sampai terbukti bersalah, bukan sebaliknya.

Peraturan ini dengan solid menegaskan bahwa setiap orang, siapapun itu, saya, kalian, terdakwa, kriminal, maupun orang yang kita panggil teroris; semuanya layak untuk di dengarkan dan kita pahami. Karena tanpa adanya kesempatan ini, keadilan tidak akan bisa dicapai. Sama seperti kehidupan kita, jika kita dengan mudahnya memvonis orang tanpa memberi mereka kesempatan, bagaimana kita dapat meraih tujuan bersama? Bagaimana Wikipedia bisa tumbuh? Bagaimana banyak orang yang awalnya ingin berkontribusi, namun tidak jadi karena ia divonis terlebih dahulu bahkan sebelum ia melakukan kontribusi apapun?

Kenapa, kita dengan mudahnya mengisi kekosongan pemahaman terhadap orang lain, tanpa persetujuan orang tersebut? Ketika kita bertemu orang yang terlihat jelek, kita dengan mudah mengasumsikan ia tidak tahu cara menjaga dirinya dengan baik, sebuah asumsi negatif. Tanpa melihat sisi asumsi positif yang mungkin orang tersebut miliki.

Cukup satu kesempatan bertanya saja dapat membuka ternyata orang yang kita pandang jelek itu memiliki budaya yang sangat berbeda. Suatu hal yang mungkin kita tidak akan ketahui tanpa menanyakan hal tersebut. Tanpa adanya asumsi niat baik, tidak akan ada yang namanya pemahaman. Berilah kesempatan, “don’t judge a book by its cover”.

Hasil Tangkapan Laut

Setelah menyelami sedalam ini tentang hakikat komunikasi dan kesalahpahaman, kita akhirnya telah menemukan butir mutiara paradoks yang indah: meskipun komunikasi yang sempurna itu mustahil, kita tidak pernah berhenti berusaha untuk saling memahami.

Kesalahpahaman itu bukan bentuk dari kegagalan komunikasi, ia adalah kondisi awal dari komunikasi itu sendiri. Setiap percakapan, setiap interaksi, setiap upaya untuk menyampaikan pikiran kita kepada orang lain, adalah sebuah perjuangan melawan kerugian informasi yang mustahil kita hindari. Namun justru di situlah keindahannya.

Wikipedia, dengan peraturan “Assume good faith”-nya, berhasil membuktikan bahwa ketika jutaan orang dari berbagai latar belakang, bahasa, dan budaya bersatu dengan asumsi niat baik, hal-hal luar biasa bisa terjadi. Ensiklopedia terbesar di dunia terbentuk bukan karena tidak ada kesalahpahaman, melainkan karena komunitas di dalamnya memilih untuk mengatasi kesalahpahaman tersebut dengan komunikasi, bukan konfrontasi.

Maka dari itu, mari kita membawa pelajaran ini ke dalam kehidupan kita sehari-hari. Ketika seseorang melakukan sesuatu yang tidak kita mengerti, jangan langsung berasumsi yang terburuk. Ketika ada perbedaan pendapat, jangan langsung menganggap orang lain bodoh atau jahat. Ketika komunikasi terasa sulit, jangan langsung menyerah.

Karena pada akhirnya, kita semua adalah orang asing di gerbong KRL kehidupan ini. Kita semua memiliki cerita, tujuan, dan cara pandang yang berbeda. Dan satu-satunya cara untuk mengubah kegelapan ketidaktahuan menjadi cahaya pemahaman adalah dengan terus berkomunikasi, terus bertanya, terus berusaha membangun jembatan di antara pulau-pulau pikiran kita yang terpisah.

Kesalahpahaman adalah titik awal, bukan titik akhir. Dan komunikasi adalah perjalanan tanpa akhir untuk saling memahami, meskipun kita tahu kita tidak akan pernah benar-benar sampai di tujuan. Namun justru perjalanan itulah yang membuat kita manusia, makhluk yang tidak pernah berhenti berusaha terhubung satu sama lain, meski dengan segala keterbatasan yang kita miliki.

Jadi, asumsikan niat baik. Beri kesempatan. Dengarkan dengan hati terbuka. Dan ingatlah: kita selalu salah paham, dan itu tidak apa-apa. Yang penting adalah kita tidak pernah berhenti berusaha untuk memahami :)


Woahh, tiba-tibanya iyxan mempublikasikan suatu esai dalam blog nya setelah bertahun-tahun of radio silence? Unik sih. Ya, kembali lagi dengan saya setelah kurang lebih satu tahun di halaman blog saya.

Saya sekarang menggunakan bahasa Indonesia ketimbang bahasa Inggris, kontras dari berbagai macam artikel yang saya sebelumnya tulis. Daaan saya sekarang menuliskan tentang esai reflektif yang bernilai filosofis, kontras sekali dengan artikel-artikel teknis yang saya miliki.

Sejujurnya saya sedang ingin eksperimentasi sih, mencoba-coba menuliskan berbagai macam artikel sesuai apa yang saya sedang obsesikan. Seperti sekarang ini, kebetulan saya akhir-akhir ini sedang terobsesi dengan pemikiran saya seniri. Yang awal mulanya iseng menjelajah Wikipedia, berbuah menjadi suatu pemikiran yang sangat kompleks ketika di renungkan selama berhari-hari.

Juga terus terang, sebenarnya artikel ini saya mulai tulis pada bulan Oktober 2025, namun karena berbagai macam kesibukan dan prioritas yang tertumpuk antara satu sama lain, saya baru saja mengambil kembali draf yang sudah berdebu ini untuk dimatangkan kembali menjadi esai yang mungkin menarik untuk dibaca.

Sebagai footnote, iya, saya menggunakan GenAI untuk membantu saya dalam menuliskan artikel ini. Namun perannya lebih ke mengritik serta memberi saran alur jalannya esai. 95% dari apa yang anda baca merupakan hasil ketikan dari keyboard VGN V87 saya selama waktu penulisan haha.

Jikalau anda tertarik untuk esai-esai berikutnya (atau artikel teknis), silahkan pantau terus situs laman personal saya, karena saya juga berencana untuk lebih sering menuliskan artikel kedepannya :)

Terimakasih, take care!

This post is licensed under CC BY 4.0 by the author.