Post

Logika dan Perasaan

Logika dan Perasaan

Pada hari itu, di hari libur yang dimana aku sedang merasa cukup penat, aku sedang memandang lapangan yang membentang luas itu.

Kemarin, lapangan itu penuh dengan air, hasil luapan dari salah satu anak sungai Bengawan Solo yang terletak di dekatnya. Terendamnya lapangan itu membuat sebuah pemandangan yang sungguh elok. Bagaikan Waduk Cengklik yang datang di pemukiman kami. Lapangan itu penuh dengan puing-puing dari perumahan sekitar karena terbawa oleh arus ketika kemarin banjir; dari sebuah ember cat, tong sampah, sampai sebuah sandal yang aku yakin sedang dicari-cari pemiliknya.

Tapi tidak hanya benda mati saja, banyak sekali serangga-serangga yang berterbangan di atas genangan air yang luas ini. Mulai dari capung, sekumpulan lalat, burung-burung yang hinggap di tanaman tinggi, serta tentunya nyamuk yang ribuan jumlahnya menyerangku ketika aku duduk.

Yang biasanya di sore hari itu lapangan bergemuruk suara pemain bola dari club sepak bola lokal; mungkin beberapa anak-anak bermain-main, melayangkan layang-layang mereka setinggi langit menjulang, sampai-sampai terdengar suara klakson motor ibu mereka yang marah-marah minta anaknya pulang; bahkan mungkin ada mas-mas atau mbak-mbak yang belajar naik motor, menerjang medan lapangan yang kurang rata, berputar-putar, mencoba mengendalikan motor yang mereka belum pernah pakai, perlahan-lahan.

Gambaran itu berubah drastis, raib. Tidak ada lagi suara ocehan anak-anak yang berkata kasar kenapa bola mereka bisa ditendang sampai menyangkut di atas atap rumahku, atau suara gol yang diteriakkan oleh penonton ketika club desa berhasil mencetak poin. Semuanya hilang, tersisa genangan air yang tersebar luas seluas lapangan itu, ujung sampai ujung.

Pada waktu itu, aku terduduk. Melihat kontrasnya berubah lapangan yang biasanya ramai ini, sungguh suatu perasaan yang campur aduk, susah untuk di proses. Bisa saja suatu fenomena sesimpel hujan dapat memiliki dampak yang luar biasa terhadap aktivitas manusia satu-dua hari kedepan. Sungguh, kita tidak dapat memprediksi apa yang alam berikan kepada kita; mau prediksi secanggih apapun BMKG miliki, belum cukup canggih untuk memprediksi luapan anak sungai ini.

Di posisi duduk itu, aku teringatkan atas peristiwa dulu semasa kita seluruh bumi jatuh ke dalam suatu era yang sama kosongnya seperti lapangan ini. Era dimana kita saling terhubung namun juga saling menjauh antara satu sama lain. Itu adalah semasa dimana coronavirus merajalela.

Entah bagaimana kisahnya virus yang sebenarnya menjangkit hewan seperti kelelawar dan rakun bisa-bisanya menular ke tubuh manusia di Wuhan, China untuk pertamakalinya. Hewan yang awalnya menjangkit SARS-CoV-2 pertama itu tentu tidak tahu-menahu bahwa ia telah membunuh sejumlah manusia sebagaimana perang dunia pertama merenggut 15-20 juta jiwa dari muka bumi.

Dunia bagaikan berhenti berputar. Orang-orang terpaksa tinggal di rumah, jalanan-jalanan kosong, mall megah mendadak menjadi angker, tidak ada penghuninya. Sama seperti kondisi lapangan waktu itu, raib. Tidak ada siapa-siapa; hanya capung, burung atau lalat yang menghinggap sana-sini.

Aku terdiam, membandingkan kedua masa yang sangat berbeda ini.

Jika aku membayangkan diriku dulu ketika masa itu, aku akan membenci diriku yang sekarang ini.

Pada masa pandemi itu, terlihat sosok yang terpaku pada layar dengan gelas air setengah terpenuhi di atas meja; nge-push rangkaian kode rumit untuk menyelesaikan proyek hobi miliknya. Berusaha dia setiap hari untuk produktif, bekerja semaksimal mungkin agar dia dapat mengalihkan guna waktu yang tidak layak dihabiskan di sekolah. “Untuk apa sekolah?”, dia pikir waktu itu. Pada akhir harinya, kita akan terlepas di lautan dunia yang luas. Jika kita hanya berkutat dengan bagaimana cara menghitung tinggi tiang listrik berdasarkan panjang bayangannya, mana bisa kita menyelesaikan permasalahan dunia?

Dia sudah berkomitmen pada dirinya sendiri untuk mendalami dunia komputer, dan dia tidak ingin sekolahnya menghindarkannya dari tujuan yang dia sudah yakin ingin raih.

Dan aku melihat diriku yang sekarang, sungguh banyak sekali pertanyaan yang keluar, bagaimana bisa aku menjalani hidup dengan santainya, dengan mudahnya. Mengapa peduli dengan pergi ke luar untuk mengobrol bersama teman? Untuk apa sebenarnya mengikuti kegiatan-kegiatan yang tidak membuahkan hasil? Persetan akan apa yang kamu rasakan, mana api yang dulunya berkobar?

Dulu yang mana hari-hari biasa diisi dengan belajar atau membuat proyek. Editor kode terbuka yang memakan waktu 7 sampai 9 jam sudah biasa. Mungkin diriku yang dulu akan mengatakan, “Kemana perginya semangat itu? Kenapa secara sadar diri membuang-buang waktu untuk hal yang tidak produktif? Bodohnya kamu, apa tujuan dari hidupmu sebenarnya?”.

Wah, benar-benar masa yang berbeda sekali. Melihat kembali lapangan yang kosong di sore hari, mengingatkanku akan diriku yang dulunya hampa. Perbedaan yang sangat kontras.

Aku mulai bertanya-tanya, sebenarnya mana sisi yang benar?

Apakah diriku yang dulu hampa tetapi dapat meraih apa yang ia inginkan justru jalan yang sebaik-baiknya jalan? Atau sebenarnya sekarang ini yang dimana aku lebih santai, lebih menikmati hidup; walau tidak sepenuhnya?

Memandang sekolah SD yang terletak persis di sisi lapangan itu, tiba-tiba tersirat ingatanku tentang suatu seri animasi yang akhir-akhir ini entah bagaimana aku tertarik untuk menonton. Seri animasi Jepang ini berjudul, “Classroom of the Elite”. Haha, memang terdengar agak melenceng, but bear with me.

Seri animasi ini memiliki plot yang menarik. Dikisahkan karakter utama di seri tersebut sebagai seorang yang tak kenal dengan perasaan. Selalu logis dan tepat. Ia adalah seorang manusia yang merupakan hasil didikan suatu institusi yang mana ia, bersama anak-anak lainnya, dipaksa untuk berkembang menjadi “jenius”, dan ia lah satu satunya anak terbaik diantara semua anak didalamnya. Dalam masa lalunya, ia entah bagaimana berhasil kabur dari institusi itu untuk pergi melangkah ke dunia luar, dimulai pada suatu sekolah atas (setara dengan SMA).

Melalui ceritanya, karakter ini berusaha memanipulasi teman-teman sekelasnya. Dengan lihai, dia memprediksi segala pergerakan yang temannya lakukan, lalu merencanakan sabotase demi kepentingan dia sendiri. Dalam pandangannya, manusia hanyalah sekedar pion catur. Pion-pion yang ia bisa gerakkan sesuai keinginannya, demi meraih tujuan yang ia miliki. Tidak peduli mau temannya tersakiti atau dikeluarkan; dengan gambaran wajahnya yang stoik tanpa ada gestur senyuman segarispun, ia hanya peduli akan apa yang menghalangi dirinya mencapai tujuannya sendiri.

Mungkin setelah menonton seri animasi tersebut terasa seru, plot nya yang unik membuat kita sebagai penonton mengantisipasi apa yang kira-kira temannya lakukan, dan apa jawaban dari karakter utama ini.

Tetapi setelah mencerna lebih dalam, berasa… muncul sebuah sambungan. Ada paralel dengan diriku dulu dan karakter utama itu. Bukan dari segi manipulatif atau kekerenan yang ia milki (aku dulu tidak sekeren itu). Tetapi dari segi bahwa kita menjalani hidup demi meraih suatu tujuan, mau bagaimanapun ceritanya.

Karakter utama ini bagaikan suatu idealisme yang aku dulu bayangkan atau ingin raih sebagai tujuan akhir. Logis, tepat, dan jelas. Bagaikan sebuah rangkaian kode yang disusun sedemikian rupa, lalu dijalankan oleh suatu alat komputasi seperti laptop atau PC, yang mencapai suatu tujuan tertentu dengan tepat, presisi, dan konsisten. Tidak ada aneh-aneh, tidak ada hal yang mengubah hasil dari komputasi tersebut. Cukup input-output. Bila outputnya-salah, maka cukup ubah kodenya. Tidak ada drama, tidak ada permasalahan.

Dan itulah sebuah utopia yang dulunya aku bayangkan.

Utopia Penuh Logika

Bayangkan sebuah dunia dimana semua manusia bergerak secara logis dan tepat. Katakan suatu skenario dimana kamu menyampaikan suatu hal yang kamu inginkan, orang yang mendengar apa yang kamu sampaikan dapat memberi umpan balik dan menjawab dengan jelas apakah ia bisa memenuhi hal tersebut atau tidak; beserta alasan yang transparan serta logis mengapa ia tidak dapat memenuhi hal tersebut.

Dari interaksi tersebut, kamu bisa dengan baik memproses dan memahami mengapa kamu tidak dapat mendapatkan hal tersebut.

Katakan kamu bersama teman-teman sekolahmu, kamu meminta temanmu untuk berkontribusi dalam kerja kelompok yang sedang ditugaskan, meminta penjelasan mengapa ia selama ini tidak dapat berkontribusi. Dengan baik dan netral, temanmu memberi penjelasan yang jelas, ia selama ini tidak dapat meluangkan waktu karena ia sedang sibuk dengan hal-hal yang ia tidak bisa tinggalkan; ia menjelaskan sudah berusaha dan berinisiatif sebaik mungkin, namun ia rasa usaha dan inisiatif tersebut terbilang kurang. Maka itulah dimana ia paham bahwa kamu merasa bahwa kontribusi dari ia tergolong kurang maksimal.

Bukankah itu penjelasan yang sungguh melegakan?

Dua makhluk otonom yang dapat berpikir berhasil memberi alasan yang rasional terhadap apa yang kamu rasa tidak layak. Dan dari situ, terdapat justifikasi yang jelas atas apa yang ia lakukan. Belum lagi, temanmu itu mengakui kesalahannya apa yang ia rasa salah, dan menyatakan bahwa ia akan merubah perlakuannya demi memenuhi tanggung jawab sebagai seorang anggota kelompok.

Terkadang kita merasa capek, mengapa dunia ini tidak semudah itu.

Mengapa mereka yang tidak berkontribusi terhadap kerja kelompok justru malah memberikan jawaban yang tidak rasional. Entah mereka tidak menjawab, memberi jawaban yang tidak rasional seperti “aku lagi males”, menutup-nutupi mengapa ia tidak dapat berkontribusi, atau bahkan di-stonewall (chat tidak di jawab) tanpa ada penjelasan.

Tidaklah dunia lebih mudah jika semua orang dengan baik dan transparan menjelaskan apa yang mereka tidak bisa lakukan? Tiap orang dapat mengetahui dengan baik apa yang mereka inginkan dan tidak, beserta alasan mengapa mereka dapat, atau tidak dapat meraihnya.

Salah satu contoh yang menarik bagi saya adalah usaha manajemen investasi yang dibangun oleh Ray Dalio bernama Bridgewater Associates; yang mana dengannya ia menjadi salah satu nama terpajang sebagai miliarder di Amerika Serikat. Dalam TEDTalk-nya, ia menegaskan bahwa Bridgewater Associates menjunjung tinggi meritokrasi ide dan apa yang ia sebut sebagai transparansi radikal.

Jadi dalam perusahaan itu, seluruh percakapan, seluruh meeting, seluruh profil dari seluruh karyawan itu sepenuhnya terbuka oleh siapapun. Ia mendorong budaya dimana para karyawan dapat mengkritisisi karyawan lain demi menjunjung tinggi keberlanjutan serta perkembangan Bridgewater Associates. Simpelnya, bila kamu mengatakan sesuatu yang salah atau keliru, ketahuilah, seluruh perusahaan dapat mengetahui apa yang kamu katakan, dan kamu akan dikritisisi oleh itu. Tapi kembali lagi, kamu bisa menyangkal kritisisi tersebut, atau memberi kritisisi kembali.

Berbeda dengan sistem autokrasi yang mana kekuasaan dipegang sepenuhnya oleh satu aktor, atau sebuah demokrasi yang mana suara tiap orang dianggap setara, Dalio mendorong sebuah sistem dimana ide-ide yang terbaik dapat menang. Thus, nama dari “meritokrasi ide”.

Dengan sistem seperti ini, seorang karyawan junior dapat dengan mudah pula menyangkal atau memberi kritisisi bahkan seorang CEO bila, sebagai contoh, ia rasa CEO-nya kurang terbuka.

Tidak akan ada lagi hal hal bodoh atau yang tidak memiliki merit dapat naik tahta dalam perusahaan seperti ini. Ketika seorang manajer atau pemimpin bersikap aneh-aneh, mudah saja ia dikritisisi oleh karyawannya. Dan terlebih baiknya lagi, tidak ada lagi main belakang tangan, bercakap di belakang, atau drama berlebihan. Karena segala permasalahan diselesaikan di depan muka dengan jelas.

Lalu bayangkan, bagaimana dunia bila menjadi seperti ini, bukankah akan menjadi lebih indah, lebih jelas, dan lebih baik, …bukan?

Ketika Logika Berdiri Sendiri

Ray Dalio mungkin berhasil membentuk sebuah sistem yang dapat melipatgandakan asetnya menjadi miliarder. Selayaknya seseorang logis yang memandang dua sisi, ia mengakui suatu permasalahan besar pada sistemnya.

Ray Dalio memberikan pidato pada seri TED Talk tentang perusahaannya (Sumber: TED) Ray Dalio memberikan pidato pada seri TED Talk tentang perusahaannya (Sumber: TED)

Yang Dalio katakan pada TEDTalk-nya, adalah bagaimana sistem ini tidak sepenuhnya bisa sesuai dengan semua orang. Ia mengatakan bahwa ada 25% sampai 30% orang yang tidak dapat beradaptasi terhadap sistem ini. Karena baginya, penyesuaian diri terhadap sistem ini perlu bagi kita memisahkan dua komponen yang ada dalam diri kita: sisi intelektual (yang melakukan apapun demi meraih kebenaran), dan sisi emosional (yang merasa bahwa kritisme adalah serangan bagi seorang individu). Katanya, dengan memisahkan kedua sisi ini, seorang karyawan dapat benar-benar menjadi tanaman subur dalam perusahaannya.

Melihat figur itu, aku menjadi terpana. 25% sampai 30%? Itu lebih dari seperempat orang yang tidak dapat beradaptasi.

Aku pun menyimpulkan, bagi saya, 25-30% orang yang tidak dapat menyesuaikan tersebut bukanlah orang-orang yang tidak layak. Melainkan, mereka adalah bukti bahwa sistem ini tidak lah di desain untuk manusia.

Pada dasarnya, usaha yang dimilikinya berputar pada tujuan yang jelas: mencari profit. Jika perusahaanya dapat menggandakan asetnya dalam kurun waktu 5 tahun, maka itu adalah suatu label bahwa perusahaannya berjalan dengan baik dan efisien.

Sesuai dengan ide bahwa tiap orang harus bersifat rasional, bukan? Bayangkan bila semua orang mengadopsi pemikiran seperti ini, bukankah dunia akan jauh lebih jelas dan tepat dan efisien?

Andai saja ide ini tersebar seluas-luasnya agar tiap orang dapat bersifat rasional, mungkin kita akan dapat mencapai utopia dunia yang kita harapkan sebelumnya. Logis, tepat, dan jelas.

Tetapi sebentar, muncul sebuah pertanyaan yang sangat besar. Bila katakan kita berhasil melakukan implementasi ide ini bagi semua orang… apa tujuan yang sebenarnya kita ingin raih?

Mungkin kita dengan mudah menjawab: kita ingin mendapatkan kekayaan, kita ingin meraih penghargaan sebanyak-banyaknya, atau kita ingin memperbaiki saluran pembuangan air agar tidak meluap ke pemukiman.

Tapi tapi sebentar dulu. Dari mana asal keinginan ini? Dari mana asal tujuan dari kita?

Kita dapat merenungkan tiap keinginan tersebut: kita perlu kekayaan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari; mungkin kita ingin meraih penghargaan karena kita ingin mendapatkan karir yang bagus di kedepan hari setelah lulus kuliah; atau kita ingin agar tempat yang kita anggap rumah tidak mudah terganggu ketika ada hujan yang deras.

Kenyataannya, keinginan yang kita ingin raih, itu pada dasarnya, berasal dari perasaan.

  • Kekayaan? Berasal dari rasa kita yang tidak pernah merasa cukup.
  • Meraih penghargaan? Berasal dari rasa ketakutan kita bila kita tidak dapat mendapatkan karir yang bagus di kemudian hari.
  • Bahkan, memperbaiki saluran air? Berasal dari rasa kenyamanan yang telah mengecewakan diri kita, tiba-tiba rumah tidak lagi terasa seperti tempat yang aman.

Semua. Semuanya mengerucut kepada perasaan.

Kita dapat berfantasi sebuah dunia yang mana orang-orang itu logis. Kita menganggap bahwa logika dan perasaan itu adalah dua dunia yang berbeda, suatu hal yang perlu dipisahkan, kata miliarder itu. Kita dapat merasa bahwa karakter utama dari seri animasi Jepang itu bagaikan dapat menjalani apapun yang ia hadapi dengan mengandalkan kejeniusannya.

Tetapi, pada akhirnya, sebenarnya apa… tujuan yang mereka ingin raih?

Kenyamanan? Keserakahan? Empati? Pemahaman?

Semua mengerucut ke perasaan.

Mengingatkanku tentang David Hume, dimana ia mengatakan: “Reason is, and ought only to be the slave of the passions” (terj. “Rasio [logika/akal budi] adalah, dan seharusnya hanyalah, budak dari emosi”).

Logika tiada guna tanpa ada perasaan yang mendorongnya dari belakang. Bagaikan sebuah sistem komputasi seperti laptop yang menyala tapi tidak ada program yang ia jalankan. CPU-nya berjalan, tapi tidak ada program yang dijalankan. Ia berguna apabila ada sesuatu data yang ia proses. Ketika sebagai contoh aku yang mengetikkan esai ini, itu adalah input bagi laptop, yang akan memproses tulisanku, menampilkannya di layar, dan menyimpannya sebagai data biner dalam sistem penyimpanannya. Sebuah laptop yang diam saja? Tidak akan melakukan apa-apa.

Komputer tidak memiliki perasaan. Mau aku banting seketika ia gagal menyimpan ketikan ribuan kata esaiku, atau mau dia terendam dalam air genangan lapangan ini, laptop ini tidak peduli.

Tidak seperti manusia. Kita pukul, langsung marah-marah. Kita lempar ke kolam renang, ia kembali tarik diri kita lalu menceburkan ke kolam agar ikut basah.

Dari sini kita melihat, bahwa pada hakikatnya, logika ialah sekedar sebuah alat. Sedangkan emosi adalah apa yang membuat logika tersebut dijalankan; atau, jika bisa dikatakan, alasan dari logika itu ada.

Terlebih lagi tentang, “memisahkan logika dan emosi”, itu adalah suatu hal yang tidak masuk akal. Bagaikan keberadaan mobil, tetapi tidak ada orang yang mengendarainya. Mobil itu ada, logika itu ada, seperti sebuah alat. Tetapi tanpa ada orang yang memakainya untuk mengendarainya sampai suatu destinasi, maka mobil itu akan diam saja, tidak berguna dan tidak ada tujuan.

Dan ironisnya, diriku yang dulu menganggap bahwa emosi adalah suatu hama bawaan manusia yang layak dihapuskan. Tidak menyadari bahwa pernyataan tersebut berasal dari perasaan ketidakpastian itu sendiri. Aku pada waktu itu merasa tidak nyaman atas ketidakpastian orang lain yang bersifat labil, tidak jelas. Dan dengan itu, aku menggunakan perasaan untuk menyangkal perasaan, sungguh pembelaan yang ironis.

Ternyata, perasaan bukanlah seperti nyamuk-nyamuk yang datang menggigit aku ketika duduk, pengganggu yang mencegah diriku untuk meraih suatu tujuan. Sedangkan, perasaan adalah suatu hal yang jauh lebih luas. Rasa keinginan diriku untuk meraih tujuan tersebut adalah perasaan, dan logika adalah salah satu cara untuk mencapai apa yang perasaan inginkan.

Logika Untuk Makhluk Sosial

Merenungkan semua hal itu, membuatku terdiam. Banyak sekali sistesis-sintesis baru yang muncul di kepala karena proses panjang yang ku sebut melalui kehidupan ini.

Selagi melamun, dari tempat dudukku memandang lapangan yang masih tergenang air itu, aku melihat sebuah angkringan yang terletak tidak jauh dari lapangan. Jarang-jarang sekali aku ke angkringan itu, karena tempatnya yang agak tertutup dan tidak terlihat. Aku juga tidak tahu seberapa banyak orang yang biasanya ke angkringan itu, mungkin para pesepak bola yang letih ingin beristirahat dengan segelas es teh setelah pertandingan yang sengit.

Aku tidak tahu apakah angkringan itu sebenarnya buka atau tutup, tidak terlihat dari tempat aku menengok karena agak jauh. Melihat depannya nampaknya juga ikut tergenang, jadi kemungkinan besar angkringan itu tidak buka. Walaupun buka, aku juga tidak tahu apakah ada pelanggan yang akan rela menapakkan kaki ke lapangan yang tergenang air ini demi nasi kucing dan bakaran sate usus ayam.

Jujur, angkringan itu adalah suatu fenomena yang bagiku sendiri cukup unik di Jawa Tengah. Tempat yang sangat sederhana, yang mungkin bila orang lain lihat itu seperti warung makan kecil-kecilan yang sekedar menawarkan hal-hal yang sama (sate-satean, nasi kucing, teh, dan sebagainya). Aku membayangkan bagi orang luar, mungkin mereka bepikir bahwa angkringan itu bukanlah tempat yang ideal untuk mengenyangkan perut.

Maka aku jawab, karena tujuan dari angkringan bukanlah terletak pada makanannya, melainkan teman-teman atau bapak-bapak yang biasanya nongkrong di tempat itu sampai larut malam. Bagaikan fenomena coffee shop yang sudah terbentuk dari zaman Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Dan indahnya, budaya itu masih berdiri sampai sekarang.

Menikmati Hidangan Hik atau Angkringan di Jawa 1910 (Koleksi https://www.kitlv.nl) Menikmati Hidangan Hik atau Angkringan di Jawa 1910 (Koleksi https://www.kitlv.nl)

Mengingat perjalanan sebelumnya, memang masuk akal bahwa perasaan itu adalah suatu hal yang mendorong logika. Tersirat di kepalaku, membayangkan bapak-bapak yang biasanya mengisi penuh suatu angkringan untuk ngeteh atau ngobrol bersama.

Nongkrong.

Suatu hal yang… aku anggap tidak berguna.

Nongkrong, ya. Suatu perbuatan manusia yang unik. Dimana kita mungkin duduk manis, membeli secangkir kopi, dan mengobrolkan entah bagaimana kemarin malam rumah bisa kemasukan air, capeknya pengurusan administrasi yang makin rumit ketika surat-surat basah kuyup, atau hal sesimpel kesal karena sandal yang telah hilang larut.

Mengingat diriku yang lama, seorang yang jarang, bahkan hampir tidak pernah keluar dari rumah. Yang mana semua kesibukan diri selalu berasal dari alat canggih almunium yang bersinar. Aku dulu merasa bahwa nongkrong, atau ngobrol bersama teman, bukanlah suatu hal yang… “produktif”.

Mengingat masa aku bersekolah SMK, mungkin aku pernah diajak teman untuk ke kafe ini, ke kafe itu. Katanya tempatnya estetik, instagrammable, kopinya enak. Aku tidak pernah menerima ajakan seperti itu, atau setidaknya, jarang sekali.

Bukan karena aku membenci atau ingin menjauhi temanku itu. Sedangkan karena aku tidak melihat justifikasi yang jelas, mengapa aku perlu ke kafe itu.

Ya, mungkin kita akan mengobrolkan tentang kondisi kita, kita akan mengobrolkan entah permasalahan apa yang sekarang ada di dunia. Tapi pada dasarnya, apa hal materialistik yang sebenarnya aku dapatkan? Justru malah ketika aku ke kafe, malah perlu mengorbankan cukup banyak uang untuk transportasi (bensin), dan kopi dari kafe itu sendiri. Akhirnya untuk apa? Untuk mengobrol saja…

Padahal dalam waktu mengobrol yang sama, aku dapat lebih baik menggunakannya untuk melanjutkan memprogram aplikasi yang selama ini aku kembangkan, aku dapat lebih baik menggunakannya untuk mempelajari tentang sistem yang aku sedang tertarik untuk pelajari. Banyak sekali missed opportunity bilamana aku sekedar nongkrong saja.

Aku pada waktu itu merasa bahwa, “nongkrong gak jelas” bukanlah suatu hal yang ingin aku habiskan waktuku. Sampai-sampai hal tersebut menjadi suatu hal yang di luar kepala.

Tiap kali ada ajakan atau apapun, aku secara otomatis menolak ajakan tersebut.

Tetapi sekarang posisiku berbeda, aku tidak lagi di SMK, aku sekarang berada di bangku perkuliahan. Terlebih lagi aku mengikuti beberapa organisasi, yang tentu mewajibkan bagi kita untuk terus berkomunikasi. Tiba-tiba, banyak sekali ajakan untuk “nongkong” atau “geser” ke tempat lain bersama teman-teman sebangku kuliah.

Menghadapi kehidupan baru ini, aku tidak lagi bisa memiliki circuit breaker otomatis ini menyala terus. Maka aku memandang kembali.

Sambil memandang angkringan yang mungkin tutup itu, aku bertanya pada diriku sendiri: kenapa aku dulu begitu yakin bahwa nongkrong itu tidak berguna? Mungkin aku menjelaskan secara panjang lebar seperti yang di atas. Tetapi, ketika aku di momen yang perlu menjawab iya atau tidak, hampir pasti aku selalu mengatakan tidak, dan aku merasa bahwa itu adalah hal yang logis.

Tetapi setelah aku mulai mencerna pandangan baru tentang hubungan logika dan perasaan. Logika itu alat, dan perasaan adalah pedorongnya. Sebenarnya, apa yang aku pandang logis dengan menganggap “nongkrong gak jelas” itu tidak baik, itu… sebenarnya tidak logis?

Sebentar, bukannya sebenarnya telah tertera penjelasan yang sangat panjang di atas? Bagaimana bisa penjelasan di atas sebenarnya tidak logis?

Aku coba telaah lebih dalam, sebenarnya bisa dikatakan bahwa penjelasan di atas terdorong atas perasaan yang muncul dalam diriku sendiri.

Menyimpulkan pernyataan bahwa “nongkrong gak jelas” itu tidak baik, itu sebenarnya berasal dari perasaan bersalah atas waktu yang terbuang karena nongkrong. Mungkin aku dulu pernah mengalami waktu dimana aku nongkrong, tidak berinteraksi dengan orang lain, dan merasa bahwa waktuku seharusnya digunakan untuk hal yang lain yang lebih bermanfaat.

Sesungguhnya, kesimpulan itu muncul dari perasaan yang dirasionalisasi.

Karena coba katakan bilamana sekarang aku yang lebih memberikan nilai terhadap koneksi, hubungan, pertemanan dengan orang lain. Tiba-tiba aku merasa bahwa mungkin mengobrol tentang filsafat epistemologi dengan teman di Kantin Tepi Danau bukanlah suatu hal yang membuang-buang waktu. Dari situ, berubahlah pandanganku tentang “nongkrong gak jelas”.

Memang, mungkin tidak terdengar “logis”, bukan? Tetapi, sebenarnya apa yang kamu maksud sebagai “logis” itu sendiri?

Karena bila aku coba membuat alasan mengapa aku tidak lagi menilai “nongkrong gak jelas” sebagai suatu hal yang harus dihindari suatu saat, sebenarnya nongkrong itu dapat menjadi suatu waktu dimana kita dapat menuangkan apa yang sedang ada di diri kita. Karena tentu saja tiap manusia yang ada di dunia ini merupakan karakter utama bagi kisah mereka sendiri-sendiri, mempunyai masalah, mempunyai kebaikan, dan mempunyai hal-hal yang mereka banggakan, entah itu memalukan atau prestise.

Mengetahui manusia apapun memiliki tendensi untuk mencari hubungan sosial sejak lahir (Ibu kita), kenyataannya, “Manusia adalah makhluk sosial”, seperti yang sudah kita pelajari sejak sekolah dasar. Sebenarnya nongkrong itu bukanlah suatu hal yang tidak logis. Justru, nongkrong adalah suatu hal yang (berani saya katakan) paling logis yang seorang manusia bisa lakukan.

Karena bila seseorang tidak diberikan koneksi, atau dijauhi dari pertemanan/lingkup sosial, itu adalah bentuk dehumanisasi, itu adalah bentuk penyangkalan kebutuhan dasar bagi seorang manusia itu sendiri. Bagaikan seseorang dalam kewajiban kita yang kelaparan tetapi tidak kita berikan makan, itu adalah sikap yang tidak etis, karena makanan adalah suatu hal yang mendasar bagi seorang manusia. Makanan adalah kebutuhan biologis bagi seorang manusia untuk dapat tetap sehat secara jasmani. Sedangkan, interaksi sosial adalah kebutuhan sosiologis bagi seorang manusia untuk tetap sehat secara mental.

Itu dia rasionalisasiku atas mengapa “nongkrong gak jelas” itu terjustifikasi secara humanis, meskipun tidak kedap udara argumennya, bagiku itu adalah penjelasan yang “logis”. Rantai ide-ide yang menjelaskan alasan suatu argumen itu bernilai benar.

Tetapi lagi-lagi, ketika aku usut sampai ke akarnya, ini semua timbul dari perasaan:

  • Argumen mengapa “nongkrong gak jelas” tidak baik, timbul dari perasaan bersalah bahwa seharusnya aku melakukan suatu hal yang dapat meraih tujuan materialistik (produktifitas).
  • Argumen mengapa “nongkrong gak jelas” baik, timbul dari perasaan fundamental manusiawi yang menginginkan interaksi sosial.

Kedua-duanya logis, bilamana perasaan yang dibelakangnya senada dengan rantai argumentasi yang tertera setelahnya.

Hal ini mengingatkanku tentang prioritas. Jika aku melihat diriku pada suatu situasi dimana seorang teman mengajakku untuk bercakap di kafe, atau memilih untuk melanjutkan proyek hobi untuk mengembangkan keterampilanku; itu bagaikan sebuah persimpangan yang mana pilihan kita bergantung terhadap prioritas kita.

Kalau aku sedang memprioritaskan koneksi, aku akan memilih untuk menerima ajakan temanku. Namun bilamana aku sedang memprioritaskan pengembangan keterampilan, aku akan memilih untuk melanjutkan proyek hobiku.

Dan pada dasarnya, sebuah prioritas ini semua berasal dari perasaan. Vibe-nya sedang apa? Apakah sedang ingin membanting tulang? Atau sedang ingin mundur dan kembali pada pertemanan? Itu semua bergantung terhadap keadaan dirimu sendiri sekarang. Suatu hal yang, ironisnya, tidak logis.

Kekalnya Logika

Sudah berulang kali aku mengatakan bahwa sekarang aku tidak lagi menganggap “nongkrong gak jelas” itu tidak baik. Karena aku sudah memiliki pandangan yang baru, perasaan yang sudah berubah, tidak lagi menjatuhkan prioritas hubungan sosial, sedangkan menyetarakannya dengan prioritas materialistik. Itulah apa yang aku pegang sekarang.

Tetapi tidak bisa dipungkiri, jika hal ini perlu waktu yang cukup lama untuk aku resapi. Entah mengapa, masih ada saja saklar otomatis yang berteriak di kepala ketika aku menerima ajakan “nongkrong gak jelas”. Walau kenyataanya posisiku sudah berbeda sekarang.

Tanpa ada pikiran, langsung muncul kesimpulan.

Dan jika aku pandang kembali, ini adalah hal sama yang terjadi ketika aku pun berada di posisi yang dulu. Andaikan seperti otomasi, atau kode yang sudah berjalan secara otomatis; tidak perlu lama-lama berfikir atau berfilosofi alasan mengapa aku melakukan sesuatu. Ketika ada input yang sesuai, muncullah kesimpulan tersebut siap-saji.

Terbesit di pikiranku, bahwa inilah apa yang para psikolog biasa sebut sebagai heuristik; yaitu sebuah jalan pintas mental yang ada pada setiap kepala manusia.

Kita sebagai manusia sebenarnya sangat perlu sekali akan adanya heuristik, karena kita tidak bisa memproses segala informasi dengan detil tiap kali kita menerima suatu input. Kita perlu semacam jalan pintas agar bisa mempercepat pemrosesan.

Dulunya ketika aku pertamakali melakukan “nongkrong gak jelas” untuk pertamakalinya, aku merasa bersalah, aku merasa bahwa aku membuang-buang waktu yang seharusnya bisa digunakan untuk mengembangkan proyek hobiku sendiri. Maka tiap kali ada ajakan lagi, aku akan terbiasa menolaknya. Dan penolakan itu terjadi, dan terjadi, dan terjadi lagi. Terus, sampai di titik dimana muncul heuristik bahwa “nongkrong = tidak baik”.

Karena repetisi, dan keadaan berulang, kepalaku mereduksi suatu kegiatan yang sebenarnya memiliki justifikasi yang solid, tetapi dengan mentah menyimpulkan suatu jawaban tanpa mempertimbangkan keadaan yang ada.

Dan ini adalah pandangan yang sungguh menarik bagiku, bahwa sebenarnya, heuristik adalah hasil perasaan yang membeku. Ketika kita merasakan hal apapun setelah melakukan suatu hal, kita asosiasikan peraasan tersebut terhadap hal yang kita lakukan. Sebagai contoh, ketika kita meminum segelas es teh di angkringan pada dekat lapangan itu lalu kita merasa lega. Perasaan lega itu akan kita kaitkan dengan es teh itu sendiri.

Dan karena kita melakukannya secara repetitif dan konsisten, mulailah terbentuk heuristik yang membantu kita membuat kesimpulan terhadap sesuatu secara instan sebelum kita melakukannya. Sekarang, es teh itu dimaknai dengan “kelegaan”, melihatnya saja sudah membuat tenggorokan kita kering. Inilah kekuatan dari sebuah heuristik.

Sama halnya seperti bagaimana kita hidup di dunia ini. Aku mengingat salah satu contoh ketika aku masih kecil: dulu, aku sedang mencoba merasakan salah satu jajanan cilok yang di jual di pinggir jalan. Harganya terbilang standar, dan aku cukup tertarik untuk mencobanya. Setelah aku coba makan pertama kalinya, aku rasa makanan itu tidak enak. Lalu di keesokan harinya, temanku pula mencoba makanan yang sama, aku coba lagi; sama, tidak terasa enak.

Dagangan cilok yang biasanya ada di pinggir jalan (Sumber: merdeka.com) Dagangan cilok yang biasanya ada di pinggir jalan (Sumber: merdeka.com)

Dari situ lah muncul suatu heuristik, “ternyata cilok itu tidak enak”. Simpel, tetapi suatu reduksi yang sebenarnya fatal.

Mungkin benar bahwa makanan cilok yang kita makan pada waktu itu tidak enak, tetapi kita tidak bisa mengatakan bahwa semua cilok itu tidak enak. Kenyataannya, aku yakin kita bisa menyebut beberapa tempat abang-abang penjual cilok yang ciloknya enak.

Karena heuristik ini, yang tidak pernah di bedah, menjadi suatu “kebiasaan”, suatu “pandangan”, bahwa “semua cilok itu tidak enak” pada masa kecilku. Itulah hal kecil yang membuatku enggan memakan cilok pada masa lalu.

Dan hal yang paling menariknya, bahwa kita menganggap bahwa heuristik yang kita miliki itu “logis”. Cilok tidak enak itu logis. Nongkrong tidak baik itu logis.

Aku jadi terpikirkan, memang benar heuristik itu adalah jalan pintas mental bagi kita. Ketika kita tidak ingin mendalami mengapa buku itu bermanfaat, kita sudah cukup mempercayai saja bahwa buku itu bermanfaat tanpa menelaah lebih dalam, dan itu pula mungkin aku anggap sebagai hal yang logis.

Jika heuristik bisa terasa seperti logika, jangan-jangan… logika adalah heuristik itu sendiri, yang sudah terpoles selama bertahun-tahun?

Kepalsuan Logika

Coba benar-benar dipikirkan.

Logika adalah heuristik.

Logika adalah jalan pintas mental yang memudahkan kita mencapai suatu kesimpulan.

Karena, bukankah itu benar? Ketika kita menggunakan implikasi: jika A maka B; kita sedang melakukan suatu reduksi, suatu pengurangan esensi.

Ambil contoh sehari-hari, “jika hujan, maka jalanan basah”. Itu adalah bentuk pernyataan logika. Dan pernyataan logika ini adalah bentuk reduksi dari suatu hal yang sungguh kompleks: proses turunnya hujan dari awan, gravitasi yang menarik benda cair dari langit ke muka bumi, air menyentuh aspal yang meresapi sela-sela aspal pada jalanan, membuatnya basah. Dan seluruh proses itu, kita reduksi menjadi sekedar “Jika A, maka B”.

Dan ketika kita ikuti asal benang ini, kita bisa melihat bahwa logika ini, secara paradoks, adalah perasaan itu sendiri.

Jika logika adalah bentuk heuristik, dan heuristik adalah perasaan yang membeku. Maka bisa disimpulkan bahwa logika adalah, yaps, perasaan yang membeku.

Perasaan yang muncul berulang kali, yang mana membeku karena repetisi, menjadi suatu hal luar kepala, sesuatu yang kita jadikan anggap “logis”… ialah logika.

Aku membayangkan, sebenarnya kira-kira apa perasaan yang membeku, sampai-sampai mewujudkan bentuk yang kita anggap logis ini. Aku anggap salah satu hal yang menumbuhkan logika adalah rasa ketidakpastian yang kita miliki, dimana dulu seorang manisia pernah merasakan suatu rasa dimana kita merasa terkewa karena katakan, baju mereka menjadi basah kuyup, dan muncul sebuah emosi yang cukup tinggi. Kesal, gusar, kecewa.

Dari perasaan yang tinggi itu, terbekas lah dalam kepala. Lama-lama membeku menjadi heuristik. Dan orang tersebut akan menyimpulkan bahwa hujan membuat basah. Dan bangkitlah logika.

Tak pernah ku sadari bahwa suatu hal yang ku sebut sebagai logika, yang aku anggap sebagai suatu alat untuk memaknai dunia, sebenarnya adalah hal yang selama ini aku anggap sebagai hama bagi perkembangan manusia.

Sungguh sintesis yang sangat menarik, logika ternyata pada unsur paling dasarnya, adalah perasaan itu sendiri. Rasa-rasa yang kita resapi dalam hati, entah itu perasaan senang, kecewa, benci, bangga, euforia, maupun dendam; semua adalah alat-alat yang digunakan untuk mengukir dan membentuk alat yang kita namai sebagai logika.

Logika yang Selalu Benar

Rasa memandang lapangan yang masih menggenang itu memang sangat mengena. Tak terasa batas air sudah tidak lagi menyentuh kotak beton yang sedang aku duduki. Sebelumnya ketika aku mulai duduk, aku hampir tidak bisa melihat langkahan beton di bawahku yang terrendam genangan air lapangan.

Sepertinya air nya sudah mulai surut, entah ia terserap oleh saluran pembuangan air yang akhirnya berfungsi dengan normal; atau karena senyawa H2O pada genangan air ini mengalami proses penguapan karena bombardir gelombang elektromagnetik berfrekuensi tinggi dari matahari yang mentransfer energi kenetik, sampai di titik dimana gaya kinetik dari senyawa ini melebihi gaya antarmolekul, yang membuatnya masing-masing berpencar secara acak ke udara, menjadi sebuah uap air.

Sungguh fenomena kimia yang menakjubkan, terjadi berjutaan, miliaran, triliunan, sampai tidak terhitung pada tiap detiknya jam berdetak. Fenomena ini terus terjadi, tetap terjadi, dan tidak akan berhenti terjadi. Mau di muka bumi, di permukaan bulan, atau galaksi lain pun. Fenomena kimia ini terukur, jelas, logis, dan tepat.

Dan hal yang jauh lebih menakjubkan dari fenomena ini adalah bahwa kejadian yang aku saksikan itu suatu hal yang sangat konsisten. Mau bagaimana perasaan kita pun mengatakan tidak, selama senyawa H2O cair berada di tempat dimana tekanan serta suhu diatur sedemikian rupa agar ia memasuki zona vaporisasi, maka ia akan menguap, ia akan mengalami perubahan wujud zat dari cair ke gas:

Diagram fase perubahan wujud air (dibuat oleh Caroline Monahan) Diagram fase perubahan wujud air (dibuat oleh Caroline Monahan)

Tidak seperti bagaimana diriku mengubah prioritas secara implisit, yang dulunya memprioritaskan pencapaian materialistik (produktifitas), ketimbang sekarang yang mulai menyetarakan prioritas hubungan sosial. Yang mana, mengubah pandanganku tentang “nongkrong gak jelas” dari suatu hal yang aku tidak sama sekali ingin lakukan, menjadi suatu hal yang aku bisa toleransi. Jika kita lihat, bukannya perasaan yang mendorong pilihan ini sungguh tidak… logis, tetapi pada waktu itu, aku memandang pikiranku sebagai logis?

Sebenarnya, aku menggunakan kata yang salah. Bukannya perasaan itu tidak logis, itu adalah kesalahan kategorisasi. Apa yang aku sebenarnya kita ingin simpulkan adalah, bahwa perasaan itu tidak konsisten.

Kita bisa menurunkan peraturan sebab-akibat untuk suatu senyawa H2O: “Jika suatu senyawa H2O berada dalam tekanan X dan temperatur Y, maka ia akan berwujud uap”. Simpel, bukan? Suatu implikasi logis yang masuk akal.

Bandingkan dengan perasaan diri sendiri, mau seberapa banyak kita memberikan parameter pada fungsi implikasi: jumlah air yang diminum, suhu ruangan, waktu, tempat, baju yang dikenakan, atau apapun; tidak ada yang bisa dengan baik membuat fungsi implikasi yang menggambarkan keadaan kita sekarang (contoh, ”jika kita menggunakan baju merah, maka kita sedang marah” mungkin bisa terdengar masuk akal, tetapi hasil lapangan tidak akan pernah konsisten). Sampai-sampai ada bidang tersendiri yang secara eksklusif membahas tingkah laku perasaan manusia, yaitu psikologi; namun itu topik lain yang sangat luas, maka tidak aku jabarkan disini.

Ini sejalan dengan ide bahwa perasaan hanyalah pendorong, dan logika adalah alat. Logika itu konsisten, maka ia adalah alat. Kita ingin ini, maka logika memberikan cara itu, dengan konsisten. Tetapi perasaan bukanlah sebuah alat, ia tidak konsisten karena ia tidak perlu konsistensi; ialah yang menjadi alasan adanya logika. Perasaan adalah yang melahirkan logika.

Namun ternyata pula, logika… sebenarnya adalah perasaan.

Logika bukanlah suatu hal yang terpisahkan dari perasaan, namun logika adalah bentuk perasaan itu sendiri. Suatu bentuk yang terstruktur, terukur sedemikian rupa, yang memprioritaskan kepastian sepenuhnya. Bagaikan bagaimana sinyal digital itu secara inheren adalah sinyal analog yang kontinu. Tidak ada sinyal digital yang sebenarnya, yang membedakan adalah bagaimana kita membacanya.

Maka pertanyaan yang aku tanyakan di awal, ‘mana yang benar, diriku yang dulu atau sekarang?’, mungkin adalah pertanyaan yang tidak valid. Bukan tentang benar atau salah, atau mana yang harus dipilih. Tapi tentang perasaan apa yang sedang aku layani. Dan itu tidak secara mutlak perlu justifikasi materialistik. Cukup aku akui. Cukup aku rasakan. Lakukan bila ingin melakukan. Itu sudah cukup manusiawi.

Justru, hal yang paling humanis bagi kita adalah mengakui perasaan kita sendiri, karena itulah apa yang benar-benar kita rasakan. Karena jika kita menghilangkan perasaan, bagaikan sebuah mobil tanpa pengendara, kita sejatinya menghilangkan diri kita sendiri.

Lapangan ini akan kering. Airnya akan dikit demi sedikit menguap, menjadi uap air yang berwujud gas, menyebar ke udara entah sampai belahan dunia mana. Tidak peduli apakah aku ingin ia tetap di sini atau tidak. Itulah hal yang logis dan konsisten.

Tapi aku, aku akan memilih untuk duduk di sini sebentar lagi. Sebab perasaanku belum selesai.


Terimakasih bagi teman-teman yang sudah membaca sampai akhir. Sekitar setengah bulan aku menuliskan entah apa kalian bisa sebut ini. Aku seringkali menyebutnya sebagai essay, namun juga aku tidak merasa dapat di letakkan pada derajat yang sama dengan sebuah essay.

Mungkin bisa dikategorikan sebagai essay reflektif personal yang membeberkan linimasa yang aku telah lalui, dengan tujuan untuk menuangkan isi kepalaku dalam kata-kata, atau pula juga untuk menjadi referensi bagi saya/teman-teman sekalian.

Ini adalah teks kedua dari yang pernah saya publikasikan di blog, yang didorong oleh perasaan pribadi yang saya tidak bisa bagikan karena alasan personal. Dan mungkin aku akan mencoba menulis lebih banyak esai-esai menarik di kedepan harinya.

Haha, jujur bagi saya sendiri, the act of writing this essay mungkin dilihat dari luar sekedar sebuah proses produksi teks; tetapi sebenarnya, esai ini telah membukakan banyak sekali ide yang menarik, menelaah kembali apa hal-hal yang aku sebelumnya kita obvious, dan membuat sintesis pribadi tentang suatu hal, yang tentu, aku sendiri rasa banggakan.

Dan juga jujur saja, aku faham pendalaman yang aku lakukan dalam teks ini masih terbilang kurang maksimal. Terlebihnya dalam bagian pengenalan sintesis bahwa “logika = heuristics = perasaan membeku”, aku rasa masih perlu banyak pendalaman untuk menguatkan ide tersebut agar lebih kokoh, mengetahui ide nya cukup kontroversial bagi para pembaca yang kritis. But hey, it ain’t ever will be perfect, jadi aku memilih untuk publish saja sekarang.

Aku juga ingin memberikan terimakasih sebanyak mungkin, kepada teman-teman di masa perkuliahan, yang paling dekat sampai yang sekedar kenal, yang sudah jauh sampai yang masih dekat. Tanpa kalian yang membuka tangan dengan lebar, mungkin aku tidak akan pernah terbesit untuk mengubah pandanganku. Dan karena kalian lah perasaanku berhasil menggerakkan diriku untuk menulis teks yang entah siapa akan baca ini.

Semoga dengan adanya karya ini dapat memberi manfaat.

Terimakasih banyak.

This post is licensed under CC BY 4.0 by the author.